JogloSemar 3-09-13
SOLO—Dua kubu di Keraton Kasunanan Surakarta yang bertikai menyambut baik langkah Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo yang ingin menjadi penengah konflik. Kedua belah pihak menilai langkah itu sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap keraton.
Walikota FX Hadi Rudyatmo mulai pekan ini berencana akan menemui para kerabat Keraton Kasunanan Surakarta baik itu dari kubu GKR Wandasari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) maupun Paku Buwono XIII Hangabehi. Kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan putra putri PB XII untuk menyelesaikan permasalah keraton.
“Mulai hari ini (kemarin-red) akan menemui kerabat keraton dari dua kubu. Setelah itu selesai baru mengundang putra putri PB XII,” terangnya saat ditemui di Stadion R Maladi, Senin (2/9).
Nantinya, dirinya akan konsentrasi pada permasalahan utama yaitu mengakui PB XIII Hangabehi sebagai raja dan KGPH Tedjowulan sebagai Mahapatih keraton Kasunan Surakarta. Sedangkan untuk masalah yang lain harus ditahan dulu dan bisa diselesaikan di lain waktu.
“Yang utama itu pengakui pengukuhan Raja dan Mahapatih dulu, itu diselesaikan dulu. Jika itu selesai baru merambah ke masalah yang lain dan itu bisa diselesaikan secara internal keraton,” ujarnya.
Dihubungi Joglosemar, Senin (2/9) KP Eddy Wirabhumi, Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta, memengatakan langkah yang diambil Pemkot patut dihargai. “Kami menyambut baik langkah itu, karena itu berasal dari niatan yang baik, jadi patut di hargai,” ujar Eddy yang merupakan suami dari GKR Koes Murtiyah, yang merupakan pimpinan Dewan Adat.
Apresiasi
Dari kubu, Sinuhun Paku Buwono XIII dan KGPH Tedjowulan, juru bicara KRMH Bambang Pradatanagara mengapresiasi langkah tersebut. Pihaknya menyampaikan dalam sejarahnya keraton memiliki hubungan yang begitu erat dengan pemerintah.
“Kami sangat menghargai langkah yang diambil Walikota, karena memang karaton ini sangat erat kaitannya dengan pemerinatah. Pada masa awal kemerdekaan keraton memiliki kaitan erat dengan Presiden Soekarno,” katanya, Senin (2/9).
Lebih lanjut, Bambang berharap dengan langkah tersebut, ke depan dapat terjalin sinergisitas antra keraton dan Pemkot Surakarta. Tak hanya itu pihaknya juga meminta maaf kepada warga solo atas konflik yang terjadi di keraton beberapa waktu lalu. “Yang jelas, kami mohon maaf kepada warga Solo, atas apa yang terjadi kemarin. Itu tidak sepantasnya terjadi. Dan kami pun berharap hal serupa tidak terulang lagi,” ungkapnya.
Pada bagian lain Walikota Rudyatmo menambahkan konflik di keraton yang berkepanjangan sangat disesalkan. Konflik di keraton yang merupakan pusat budaya dan kearifan lokal, membuat masyarakat geram. Apalagi akibat konflik itu tentunya juga akan merusak cagar budaya dan eksistensi wisata di Keraton Kasunanan Surakarta.
“Ini harus segera diselesaikan biar tidak masalah ini tidak semakin runyam dan panjang. Saya jelas menyesalkan konflik keraton ini yang merupakan pusat kebudayaan dan kearifan lokal,” kata dia.
Jadi, permasalahan yang utama dulu diselesaikan dulu kemudian mau ditata dan itu selesai, baru bicara yang lain. Yang penting keraton bisa kondusif dulu, makanya dalam penyelesain ini akan dipeta-petakan. Mestinya lewat pemanggilan kedua pihak nanti bisa selesai, sehingga keraton bisa menjadi seperti dulu.
“Jadi harus dipetakan tidak sekaligus diselesaikan. Harapannya ini segera selesai dan kerabat menjadi satu untuk membangun keraton, tentunya membuat suasana kondusirf lagi” sambung dia.
Seperti diberitakan konflik keratin kembali pecah Senin (26/8) lalu. Rencana acara halal bihalal yang digelar Raja Keraton Surakarta, Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi berubah menjadi kericuhan yang melibatkan ratusan orang. Pasalnya, kubu Dewan Adat yang dipimpin GKR Koes Murtiyah datang dan menghalangi berlangsungnya acara yang juga akan dirangkai dengan pengukuhan KGPH Tedjowulan sebagai Maha Menteri itu.
Sempat terjadi adu jotos antara warga Baluwarti yang berada di pihak Sinuhun dengan kubu Dewan Adat mengenakan baju merah.
Malam harinya, warga Baluwarti nekat mendobrak pintu Sasonomulyo dengan menggunakan mobil jenis jeep. Alhasil, pintu keraton yang merupakan bagian dari benda cagar budaya itu pun hancur di salah satu sisinya. Ari Welianto | Arief Setiyanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar